Uji Motilitas Bakteri (Motility Test): Prinsip, Prosedur, dan Interpretasi Hasil
Uji motilitas bakteri (motility test) adalah prosedur laboratorium untuk mengetahui apakah bakteri bisa bergerak sendiri (motil) atau tidak. Kemampuan gerak ini digerakkan oleh struktur seperti cambuk yang disebut flagela. Di laboratorium klinis, tes motilitas dipakai sebagai pembeda penting saat mengidentifikasi bakteri yang belum diketahui jenisnya. Pendekatan ini sangat berguna untuk membedakan bakteri berbentuk batang, khususnya anggota keluarga Enterobacteriaceae (MacFaddin, 2000).
Table Of Content
Latar Belakang dan Prinsip Dasar Media Semi Padat
Menanam bakteri dalam agar semi padat adalah umum untuk melihat pola pergerakan mikroba. Motility agar dibuat dengan konsentrasi agar sangat rendah, sekitar 0,4 persen, sehingga konsistensinya lunak seperti gel. Bentuk semi padat memungkinkan bakteri yang memiliki flagela berenang menembus matriks agar. Sebaliknya, bakteri non-motil hanya akan menumpuk di tempat awal jarum ditusukkan.
Untuk memperjelas pengamatan visual, pembuat media sering menambahkan pewarna redoks seperti garam tetrazolium (contohnya TTC). Awalnya, TTC sama sekali tidak berwarna. Saat sel bakteri bermetabolisme, reaksi reduksi seluler akan mengubah tetrazolium menjadi senyawa formazan yang berwarna merah pekat. Warna merah ini membantu menunjukkan ke mana saja arah penyebaran bakteri di dalam tabung kultur. Namun, patokan utama bakteri disebut motil tetap bergantung pada penyebaran pertumbuhannya yang menyebar keluar dari garis tusukan, bukan semata-mata karena perubahan warnanya (Tille, 2014).

Perbandingan dengan Metode Mikroskopis
Pengamatan motilitas bisa juga dilakukan langsung di bawah mikroskop lewat teknik hanging drop atau sediaan basah (wet mount). Cara pengamatan langsung ini memang lebih cepat karena praktikan tidak perlu menunggu masa inkubasi berhari-hari. Sayangnya, pengamatan mikroskopis rawan menghasilkan hasil false positive. Pengamat sering tertipu oleh gerak Brown—yakni getaran pasif akibat tumbukan molekul air—atau pergerakan akibat aliran cairan di bawah kaca penutup, lalu mengiranya sebagai bakteri yang bergerak.
Karena alasan tersebut, inokulasi tusukan pada motility agar lebih mudah diinterpretasikan dan sangat mengurangi bias subyektif pengamat. Selain motility agar standar, banyak laboratorium menggunakan medium kombinasi seperti SIM (Sulfide Indole Motility). Kandungan agar rendah pada medium SIM dipadukan dengan reagen biokimia lain. Praktikan pun dapat menguji produksi hidrogen sulfida, pembentukan indol, serta pergerakan bakteri sekaligus dalam satu tabung (Leboffe & Pierce, 2011).
Prosedur Kerja Inokulasi
Praktikan harus berhati-hati saat menanam bakteri ke dalam motility agar. Menggunakan alat yang salah atau tangan yang goyah bisa merobek matriks semi padat dan mengacaukan hasil akhirnya.
- Bakar jarum inokulasi (inoculating needle) pada api bunsen sampai steril. Jangan pernah gunakan ose bulat (loop) karena kepalanya akan membelah media terlalu lebar.
- Ambil sedikit saja koloni bakteri dari kultur murni yang berumur 18-24 jam.
- Tusukkan jarum lurus ke bawah, tepat di tengah tabung, kira-kira sampai dua pertiga kedalaman media agar.
- Tarik jarum perlahan melewati jalur tusukan yang persis sama. Jaga agar posisi tangan stabil supaya tidak merobek agar ke arah samping.
- Inkubasi tabung pada suhu 30°C selama 48 jam. Penggunaan suhu 30°C (suhu ruang) menjadi standar karena banyak spesies patogen lingkungan memproduksi protein flagela secara jauh lebih maksimal ketimbang di suhu fisiologis 37°C (Versalovic et al., 2011).
Interpretasi Hasil Uji Motilitas
Untuk membaca hasil, pegang tabung kultur sejajar mata dan arahkan ke cahaya terang. Amati seberapa jauh kekeruhan (turbiditas) menyebar di luar titik inokulasi.
- Hasil Positif (Motil): Bakteri tampak menyebar menjauhi garis tusukan awal. Area agar terlihat kabur (fuzzy) di seluruh bagian tabung. Jika menggunakan indikator tetrazolium, semburat warna merah muda atau merah pekat akan meluas menembus media. Contoh bakteri motil yang umum diuji adalah Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan hampir semua spesies Salmonella.
- Hasil Negatif (Non-motil): Pertumbuhan bakteri hanya terlihat mengumpul di sepanjang garis tusukan jarum. Sisa agar di sekeliling tusukan tersebut tetap jernih dan transparan. Pada media dengan tetrazolium, warna merah akan membentuk satu garis vertikal tajam tanpa ada rembesan ke samping. Contoh bakteri non-motil meliputi Klebsiella pneumoniae dan Shigella spp.
Troubleshooting: Jebakan Kesalahan Umum
Uji tusuk agar sangat bergantung pada teknik tangan operator laboratorium. Ada beberapa jebakan yang sering membuat hasil pengamatan keliru.
Pertama, mengambil bakteri terlalu banyak (overinokulasi). Inokulum yang berlebih akan meluber lalu tumbuh lebat di atas permukaan agar. Akibatnya, pengamat kesulitan melihat atau mengevaluasi area tusukan di bagian dalam tabung.
Kedua, tangan gemetar saat menarik jarum keluar. Tarikan jarum yang menyamping akan mengiris matriks agar dan menciptakan celah sekunder. Bakteri non-motil bisa saja masuk dan tumbuh di robekan tersebut, membuat media seolah-olah terlihat menyebar seperti hasil positif (positif palsu).
Ketiga, mengabaikan sensitivitas suhu inkubasi. Spesies patogen tertentu sangat sensitif terhadap panas. Contoh terbaik adalah Yersinia enterocolitica. Bakteri ini sangat aktif berenang menggunakan flagelanya pada suhu 25°C. Tetapi jika staf lab memasukkannya ke inkubator bersuhu tubuh manusia (37°C), gen pembentuk flagelanya akan tertekan (represi), sehingga bakteri tersebut gagal bergerak dan memberikan hasil negatif palsu (Winn et al., 2006).
Daftar Pustaka Referensi
- Leboffe, M. J., & Pierce, B. E. (2011). A Photographic Atlas for the Microbiology Laboratory. 4th Edition. Morton Publishing Company.
- MacFaddin, J. F. (2000). Biochemical Tests for Identification of Medical Bacteria. 3rd Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
- Tille, P. (2014). Bailey & Scott’s Diagnostic Microbiology. 13th Edition. Mosby.
- Versalovic, J., et al. (2011). Manual of Clinical Microbiology. 10th Edition. ASM Press.
- Winn, W., et al. (2006). Koneman’s Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.