Uji Aerotoleransi Bakteri: Prinsip Fluid Thioglycollate Medium (FTM), Prosedur, dan Interpretasi
Uji kebutuhan oksigen (aerotoleransi) menggunakan Fluid Thioglycollate Medium (FTM) atau media kaldu tioglikolat adalah prosedur esensial dalam taksonomi mikroba klinis. Pengujian ini secara langsung mengklasifikasikan isolat bakteri ke dalam lima kelompok utama berdasarkan pola pertumbuhannya di sepanjang gradien oksigen. Keunggulan utama FTM dibandingkan sistem kultur cair lainnya terletak pada kemampuannya menumbuhkan bakteri aerob, anaerob, maupun mikroaerofil di dalam satu tabung standar, tanpa memerlukan perangkat jar anaerobik khusus pada tahap penapisan awal.
Table Of Content
Komposisi Kimia dan Pembentukan Gradien Oksigen

Medium FTM mendiferensiasi kebutuhan oksigen mikroba dengan menciptakan gradien oksigen buatan. Bagian permukaan cairan bersentuhan langsung dengan udara atmosfer (zona aerobik tinggi oksigen), sementara kadar oksigen menurun secara bertahap hingga mencapai kondisi sepenuhnya tanpa oksigen di dasar tabung (zona anaerobik). Kondisi fisikokimia ini dipertahankan oleh tiga komponen fungsional utama:
Natrium Tioglikolat dan L-sistin: Berfungsi sebagai agen pereduksi. Senyawa ini secara aktif mengikat oksigen bebas yang terlarut di dalam medium dan mereduksinya menjadi air. Efek interpretasinya adalah terciptanya lingkungan anaerobik yang stabil di area tengah hingga dasar tabung kultur.
Resazurin: Berfungsi sebagai indikator oksidasi-reduksi (redoks). Resazurin berwarna merah muda saat teroksidasi dan menjadi tidak berwarna saat tereduksi. Efek interpretasinya adalah memberikan penanda visual yang jelas mengenai seberapa dalam oksigen dari udara telah berdifusi ke dalam media.
Agar Konsentrasi Rendah (0,05%): Berfungsi sebagai pengontrol difusi dan penyangga mekanis. Penambahan sedikit agar membuat viskositas cairan meningkat. Efek interpretasinya adalah mencegah arus konveksi yang dapat mengaduk oksigen ke dasar tabung, sekaligus menahan sel bakteri agar tetap melayang dan tumbuh di zona oksigen spesifiknya tanpa mengendap akibat gravitasi.
Prosedur Inokulasi dan Pencegahan Artefak
Prosedur inokulasi FTM sangat rentan terhadap kesalahan penanganan mekanis. Praktikan harus memastikan bahwa gradien oksigen dan viskositas media tidak terganggu selama proses inokulasi dan inkubasi.
- Gunakan kultur murni bakteri yang segar (umur 18-24 jam) untuk memastikan viabilitas sel yang tinggi.
- Ambil inokulum dalam jumlah sedang menggunakan jarum inokulasi lurus (inoculating needle) yang steril. Hindari pengambilan inokulum yang terlalu padat (overload) karena sel mati dapat mengendap ke dasar dan mengacaukan pembacaan.
- Tusukkan jarum secara vertikal hingga mendekati dasar tabung FTM. Tarik perlahan melalui jalur yang sama. Dilarang keras mengaduk atau mengocok tabung.
- Inkubasi tabung pada suhu 35–37°C dan baca hasil dalam rentang waktu inkubasi yang tepat (umumnya 24-48 jam). Pembacaan yang terlalu lama dapat mengaburkan zona pertumbuhan karena difusi nutrisi yang habis.
Interpretasi Hasil: Lima Kelas Aerotoleransi
Evaluasi profil aerotoleransi dilakukan dengan mengamati distribusi kekeruhan (turbiditas) visual relatif terhadap zona indikator merah muda di bagian atas tabung.
| Kelas Oksigen | Lokasi Kekeruhan (Turbiditas) | Keterangan Metabolisme | Risiko Kesalahan Interpretasi (Misread Risk) |
|---|---|---|---|
| Obligat Aerob | Menumpuk padat di lapisan paling atas (di dalam zona merah muda). | Mutlak membutuhkan oksigen untuk respirasi. | Dapat tertukar dengan kontaminasi permukaan dari udara lingkungan. |
| Obligat Anaerob | Hanya tumbuh di bagian dasar tabung. Zona atas tetap jernih. | Oksigen bersifat toksik. Mengandalkan fermentasi/respirasi anaerobik. | Bakteri gagal tumbuh (tabung jernih total) jika media FTM sudah terlalu teroksidasi sebelum digunakan. |
| Anaerob Fakultatif | Menyebar di seluruh tabung, tetapi pertumbuhan sangat tebal di bagian atas. | Dapat menggunakan atau tanpa oksigen. Pertumbuhan di atas lebih lebat karena respirasi aerobik menghasilkan jauh lebih banyak ATP (efisien). | Sering tertukar dengan kelompok aerotoleran jika diamati terlalu terburu-buru. Kunci pembedanya adalah kepadatan di permukaan. |
| Mikroaerofil | Membentuk pita atau cincin tipis tepat di bawah batas zona merah muda. | Membutuhkan oksigen pada kadar rendah (2-10%). Oksigen atmosferik (21%) merusak enzim seluler. | Ketebalan dan posisi kedalaman pita dapat bervariasi sedikit tergantung sensitivitas spesifik strain bakteri. |
| Anaerob Aerotoleran | Menyebar merata secara seragam dari permukaan hingga dasar tabung. | Sama sekali tidak menggunakan oksigen, namun memiliki enzim pelindung untuk menetralisir radikal bebas oksigen. | Tidak menunjukkan penebalan pertumbuhan di permukaan seperti pada kelompok anaerob fakultatif. |
Pemecahan Masalah (Troubleshooting) Uji FTM
Beberapa galat teknis di laboratorium dapat mendistorsi pola pertumbuhan bakteri pada kaldu tioglikolat. Berikut panduan mitigasi untuk masalah yang paling sering muncul:
Zona Merah Muda Melebihi 30% Volume Tabung:
Kondisi ini menandakan media telah terlalu banyak menyerap oksigen selama masa penyimpanan. Inokulasi bakteri pada media ini akan membunuh isolat obligat anaerob (negatif palsu). Praktikan harus merebus (boiling) tabung FTM tersebut di dalam penangas air selama 10 menit untuk mengusir oksigen bebas, lalu mendinginkannya secara alami ke suhu ruang sebelum prosedur inokulasi.
Tabung Terkocok Pasca-Inokulasi
Goyangan yang terlalu kuat saat memindahkan tabung ke inkubator akan mengaduk oksigen dari lapisan atas langsung ke dasar tabung. Kejadian ini merusak gradien redoks dan secara langsung menghambat pertumbuhan bakteri anaerob obligat, serta menyebarkan pertumbuhan bakteri aerob ke area yang salah.
Inokulum Terlalu Padat (Over-inoculation):
Mengambil suspensi bakteri dalam jumlah sangat besar menggunakan loop penuh dapat menyebabkan gumpalan sel mati jatuh (mengendap) ke dasar tabung akibat gravitasi. Endapan mekanis ini menyerupai pola pertumbuhan obligat anaerob dan mengacaukan pembacaan zona turbiditas biologis yang asli.
Daftar Pustaka Referensi
- Leboffe, M. J., & Pierce, B. E. (2011). A Photographic Atlas for the Microbiology Laboratory. 4th Edition. Morton Publishing Company.
- MacFaddin, J. F. (2000). Biochemical Tests for Identification of Medical Bacteria. 3rd Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
- Madigan, M. T., Bender, K. S., Buckley, D. H., Sattley, W. M., & Stahl, D. A. (2018). Brock Biology of Microorganisms. 15th Edition. Pearson.